Peringatan Hari Ibu, Asal Usul dan Pandangan Islam

Peringatan Hari Ibu, Asal Usul dan Pandangan Islam - Hari Ibu merupakan peringatan tahunan yang sering dilakukan oleh seluruh masyarakat di dunia. Indonesia sendiri memperingati hari ibu setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Kali ini kami ingin memberikan informasi seputar asal usul dan pandangn Islam tentang peringatan Hari Ibu.

Peringatan Hari Ibu, Asal Usul & Pandangan Islam

Menurut Wikipedia, Hari Ibu adalah hari peringatan/perayaan terhadap peranan seorang ibu dalam keluarga, yang dilakukan baik itu suami, anak-anak maupun lingkungan sosialnya. Dalam memperingati hari besar ini, biasanya anggota keluarga membebastugaskan Ibu dari tugas-tugas rumahan yang menjadi kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan berbagai urusan rumahan lainnya.

Sejarah Hari Ibu


Bagi orang Yunani, Hari Ibu dikenal sebagai perayaan musim bunga. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan bagi Rhea, Ibu kepada Tuhan mereka. Di Inggris, perayaan ini dikenal dengan julukan “Mothering Sunday” sejak tahun 1600. Kala itu penganut Kristen akan berhenti untuk memakan makanan tertentu dengan alasan dogma agama. Hal ini dilakukan untuk menghormati Mother Mary (Maryam) - Ibu dari Jesus yang mereka anggap sebagai tuhan, sementara di Islam adalah Ibu dari Nabi Isa Alaihissalam.

Amalan dan tradisi ini menjamur ke seluruh dunia dan hingga kini dikenal dan dirayakan sebagai penghormatan kepada Mother Church (Kuasa Spiritual yang agung member manusia kehidupan dan memelihara mereka dari keterpurukan). Sejak itu, peringatan Mothering Sunday telah berbaur dalam upacara keagamaan dalam gereja.

Di Amerika Serikat sendiri, Hari Ibu mulai dikenal pada awal 1872 hasil ilham dari Julia Ward Howe. Ia seorang aktivis sosial dan telah menuliskan sebuah puisi ”The Battle Hymn of The Republic” (TBHoTR). TBHoTR telah menjadi lagu patriotik populer kala itu untuk warga Amerika. Kata pujian “Hallelujah” disebutkan dalam bait-bait lagu itu yang memberikan sentuhan kepada Kaum Yahudi dan Zionis untuk menguasai dunia politik dunia.

Tahun 1907 Anna Jarvis kelahiran kota kecil Webster, Virginia Barat, telah mengawal kampanye untuk melancarkan liburan Hari Ibu di Amarika Serikat. Wanita asal Philadelphia ini berhasil mempengaruhi Mother’s Church di Grafton, sehingga west Virginia merayakan dan meramaikan Hari Ibu di hari ulang tahun kedua kematian ibunya, yaitu pada hari Ahad kedua dalam bulan Mei. Itulah yang menjadi awal Hari Ibu diperingati secara luas setiap tahunnya di Philadelphia. Selanjutnya Anna Jarvis dan pengikutnya mengirimkan surat kepada menteri, penguasa dan para politikus agar Hari Ibu disambut secara serentak di seluruh dunia. Usaha itu berhasil pada tahun 1911, dan pada tahun 1914 Presiden Woodrow Wilson secara resmi menjadikan Hari Ibu sebagai hari libur yang dirayakan setiap Ahad kedua dalam bulan Mei.

Di Indonesia sendiri Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Peringatan ini bermula dari pertemuan para pejuang wanita dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di gedung Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Kongres pertama ini dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari Jawa dan Sumatera. Hasil pertemuan itu membuahkan hasil untuk membentuk Kongres Perempuan yang saat ini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Penentuan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu dihasilkan saat Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Hasil konres tersebut mendapat restu dari Presiden Soekarno, dan menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Pandangan Islam Dengan Hari Ibu


Dalam Islam sendiri, tanpa adanya hari-hari penting dan sebagainya seorang anak tetap harus mengistemewakan Ibu. Perjuangan Ibu begitu besar untuk anak dan rumah tangganya. Mulai dari mengandung kita selama 9 bulan 10 hari, menyusui sang anak tanpa mengenal waktu, menjaga kita kala sakit, memasak untuk makanan orang rumah, dan masih banyak lagi perjuangan seorang ibu untuk kebahagiaan rumah tangganya.

Sabda Rasulullah untuk keistemewaan Ibu, “Seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita.”

Dalam ajaran Islam, Ibu mendapat tempat penting dan harus diistimewakan seperti yang kita dapatkan dalam Al Quran dan kisah-kisah teladan. Tak jarang juga kita mendengar pepatah “Surga Ada di bawah kaki Ibu.”

Firman Allah SWT dalam Al Quran: "Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)"(QS. Al An'am 6:151)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isr√£’ [17]: 23-24).

Dalam hadist sendiri juga dijelaskan peranan penting Ibu dan Ayah:

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Bahz bin hakim dari Bapaknya dari Kakeknya ia berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa yang paling aku perlakukan dengan baik?" beliau menjawab: "Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat, kemudian yang terdekat." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seseorang minta seatu kelebihan (nikmat) kepada tuannya, namun ia menolak meskipun yang diminta ada, maka pada hari kiamat kelak nikmat yang ia tahan tadi akan dipanggilkan untuknya dalam wujud seekor ular Aqra' (ganas)." Abu Dawud berkata, "Kata Al Aqra' adalah yang botak kepalanya disebabkan oleh racun." (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi)

Dari beberapa kutipan di atas sudah jelas Ibu harus mendapat keistemewaan tanpa memandang adanya hari-hari khusus sebagai peringatan. Seorang muslim sudah seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak disyariatkan dan membatasi diri sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan yang disampaikan Rasul-Nya.

Sumber: Wikipedia, Era Muslim

Ringkas.net dikelola oleh tiga orang pemuda (Abede Thalib, Alyssa K, Lisa Nathalia) yang sementara belajar menulis, dan berdedikasi untuk menyampaikan informasi terbaru yang diketahuinya.

Load comments

1 Comments: